BIRO UMUM HUMAS & PROTOKOL

SEKRETARIAT DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Home Berita ACARA LIVE DIALOG INTERAKTIF HUMAS PEMDA DIY: Sumpah Pemuda dan Generasi Muda Inklusi
Total kunjungan: 26

ACARA LIVE DIALOG INTERAKTIF HUMAS PEMDA DIY: Sumpah Pemuda dan Generasi Muda Inklusi

Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Yogyakarta (28/10/2019) – Bagian Humas Biro Umum, Humas, dan Protokol menyelenggarakan dialog interaktif dalam rangka Hari Sumpah Pemuda di Jogja TV yang disiarkan secara langsung dari studio Jogja TV di  Sendangtirto, Kec. Berbah, Kab. Sleman, Yogyakarta, pada senin (28/10) sore. Dialog interaktif kali ini bertemakan Generasi Muda Inklusi: Membumikan Nilai-Nilai Pancasila dan Menanamkan Toleransi pada Generasi Milenial. Dengan narasumber, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Dikpora Didik Wardaya, SE, M.Pd, MM., dan Direktur Eksekutif SATUNAMA Foundation William E Aipipidely.

Dalam dialog tersebut Didik menyampaikan, makna sumpah pemuda terutama untuk bangsa Indonesia yaitu bagaimana kita bisa mewarisi, mengingat, dan menyadari kembali tentang nilai-nilai kebersamaan.  Terutama dalam persatuan dan kesatuan, yang dulu sudah diwariskan oleh pendahulu. Hal tersebut harus digali, lalu terapkan dan digunakan kembali dalam berbangsa dan bernegara.

“Inklusi itu dibagi menjadi dua. Pertama, inklusi secara besar yaitu saat mayoritas bisa menerima keberadaan minoritas dalam sebuah kebersamaan, atau sebaliknya. Kedua, inklusi secara kecil yaitu contohnya anak disabilitas bisa sekolah bersama dengan anak lain dalam satu situasi. Sehingga yang disabilitas bisa dihargai walaupun dengan kekurangan dan hambatannya sendiri. Ketika berbicara tentang kewarganegaraan inklusi kembali lagi pada persatuan dan kesatuan, bahwa Indonesia dibangun dengan keberagaman dan kebinekaan. Dengan keberagaman dan kebinekaan ini justru menjadi dasar untuk bersatu, sama seperti pelangi yang indah ketika memiliki banyak warna.” lanjut Didik.

William E Aipipidely menjelaskan bahwa, Generasi muda yang inklusi adalah penanda penting transformasi untuk Yogyakarta sebagai kota yang inklusi, toleran, inovatif dan berbudaya. Model generasi yang bertumpu pada kewarganegaan inklusif. Ia menjadi aktor sentral pembumian nilai-nilai pancasila. Mereka menerima dirinya sebagai pribadi yang unik, melakukan perbaikan diri, berkarya nyata, menyumbang perubahan dan memastikan lingkungannya tumbuh dalam semangat inovatif-penuh harapan. Pembumian nilai pancasila dan menanamkan toleransi dalam aksi nyata, itulah narasi baru yang ditorehkan milenial Yogyakarta

Salah satu cara membumikan pancasila yaitu dengan memanfaatkan pemikiran pemuda masa kini, dengan perkembangan teknologi, generasi muda dapat menciptakan inovasi baru untuk menkampanyekan nilai-nilai pancasila. Generasi milenial harus memiliki ciri khusus untuk membumikan nilai nilai dasar negara, ciri pemuda yang inklusi ialah, memiliki pemikiran yang terbuka, pemikiran yang berbhineka, pemikiran toleransi, yang bisa menerima perbedaan baik itu suku, ras maupun agama, atau perbedaan politik, dan tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagi hambatan untuk berkomunikasi.

“Yogyakarta sebagai kota yang Istimewa merupakan kota inklusi, dan sumpah pemuda menjadi momentum bagi generasi muda indonesia untuk menampakkan watak inklusi sebagai bagian dari peradaban yang maju, agar kota ini menjadi kota yang inspiratif  bagi bangsa, menciptakan keluarga inklusi, lingkungan yang inklusi agar dapat menciptakan anak-anak inklusi sebagai penerus bangsa”, Ujar william. (Yn/Au)

Pejabat

Pejabat Biro Umum dan Protokol Setda DIY

Bantuan Teknis

Dokumentasi

Online User

Design templateOnline User