BIRO UMUM HUMAS & PROTOKOL

SEKRETARIAT DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Total kunjungan: 22

MEMPERTEGUH NILAI PANCASILA MELALUI RE-AKTUALISASI BUDAYA KEINDONESIAAN

Seminar Nasional

MERAWAT AKAR KE “INDONESIA-AN” DALAM PENGUATAN PANCASILA MELALUI SUMPAH PERADABAN

Surabaya, 14 Januari 2023



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.



Yang terhormat:

Bapak Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud MD.

 

Yang saya hormati:

  • Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi;

  • Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa;

  • Rektor Unitomo dan segenap civitas akademis-nya;

  • Ketua Gerakan Peradaban Indonesia;

  • Para Narasumber;

  • Para Peserta Seminar, Hadirin, dan Tamu Undangan sekalian,



Dalam menghantarkan materi ini, perkenankanlah saya mengawalinya, dengan dinamika sejarah pembangunan Ibukota Negara Baru (IKN). Dalam hemat saya, pembangunan IKN, erat bersentuhan dengan nilai-nilai Pancasila, dan eksistensi Bangsa Indonesia, seiring kebhinekaan budayanya. Dan apabila dirunut filosofi dan sejarahnya, bukanlah tanpa alasan, Bung Karno ingin membangun IKN di Palangkaraya.

Apabila ditilik dari tafsir independensi, barangkali Bung Karno memang punya gagasan besar, dengan menjadikan Palangkaraya, sebagai Ibu Kota Negara yang dilengkapi sebuah Istana, untuk tempat tinggal Pimpinan Negara. Sebuah istana, yang benar-benar dibangun oleh republik ini, dan bukan bangunan warisan kolonial semata.

Pada masa itu, calon Ibu Kota Negara tersebut, didesain oleh Bung Karno, dengan rancangan penuh simbolisme. Hal ini tak lepas dari karakter beliau, yang dikenal sebagai sosok arsitek yang romantis-simbolik. Bung Karno, meletakkan elemen dasar desain untuk Ibu Kota Negara, dengan citra khas sebagai “Kota Trimuka: memiliki wajah hutan, perkotaan dan perdesaan".

Dan saat ini, meski pembangunan IKN bergeser, sekitar 500 km di Timur Laut Kota Palangkaraya, tentunya, inspirasi Bung Karno tetap menjadi fondasi, baik dari sisi filosofi maupun arsitekturalnya. Selain itu, desain IKN juga lekat dengan eksistensi Pancasila sebagai inspirator utama, yang juga menjadi tema besar acara seminar pada hari ini.

 

Bapak Menteri dan para Hadirin yang saya hormati,

…..Pantja Sila adalah philosofische grondslag, itulah pondamen, filsafat, pikiran, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya, untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka.....



Itulah pesan Bung Karno, yang memaknai Pancasila sebagai “philosofische grondslag'", dasar filosofis bangsa yang mengandung kearifan, selain sebagai Dasar Negara dan pandangan hidup, atau “Weltanschauung” yang berakar pada budaya bangsa.

 

Namun sayangnya, meski kita selalu ingin memelihara falsafah ini melalui semangat gotong-royong, serta mengedepankan mufakat dalam musyawarah sebagai kearifan bangsa, tetapi seringkali terjadi “show off”, suka bertindak sendiri-sendiri tanpa batas, dan pandai melakukan rekayasa dalam berdemokrasi.

Padahal, seandainya ego bisa diredam, dan selanjutnya merenungkan praktik demokrasi dari sudut pandang berbagai budaya Indonesia, tentu akan lahir kesadaran. Bahwa sejatinya, masyarakat telah memiliki embrio demokrasi, dalam tata nilai adatnya, semisal rembug desa, yang menjadi jalan mufakat khas orang di perdesaan Jawa. Bila dicermati lebih mendalam, sikap budaya etnik-etnik Nusantara, tampaknya memang memiliki karakteristik yang serupa. Harmoni itu, terekspresikan dalam lima Sila Pancasila. Sikap budaya harmoni khas Nusantara, sebenarnya memiliki persamaan dengan sikap budaya berbagai bangsa di Asia, dan cenderung kontras dengan peradaban barat.

Sikap budaya harmoni ketimuran, memandang kebersamaan atau masyarakat sebagai pilar kehidupan, sedangkan sikap budaya Barat, menganggap individu manusia sebagai nilai utama. Itulah sebabnya, dunia Barat menghasilkan individualisme dan liberalisme, diikuti materialisme, yang bermuara pada imperialisme dan kolonialisme. Peradaban dunia Barat, yang lahir dari sikap budaya menaklukkan alam (to conquer nature), selanjutnya mengembangkan kehidupan materiilnya, untuk meluaskan kekuasaan.

Dan seiring berjalannya waktu, peradaban barat justru mendominasi imaji global, dan mungkin pula, menjadi role model bagi sebagian bangsa di dunia timur, meski sejatinya cenderung bertentangan dengan harmoni budaya khas mereka sendiri.

Atas fenomena tersebut, apakah lantas kita harus menyerah dan berkecil hati, dalam menyikapi meredupnya harmoni budaya Nusantara atau ketimuran itu? Secara tegas, kita harus menjawab: “Tidak ada narasi patah arang atau malah inferior atas benturan peradaban yang terjadi!”.

Bagaimanapun, sebagaimana dibuktikan sejarah, sikap budaya harmoni bukanlah sesuatu yang pasif dan status quo. Sikap budaya harmoni memang harus diperjuangkan dan direaktualisasi. Itulah pula yang harus dilakukan dalam mengejawantah Pancasila, di era yang penuh tarikan zaman dan putaran peradaban yang sedemikian cepat ini.

 

Bapak Menteri dan Hadirin sekalian,

 

Merunut dari beberapa hal yang sudah saya sampaikan di atas, jika kita akan menghidupkan Pancasila menjadi living ideology, maka harus dilakukan dengan menghidupkan dan memperkuat budaya harmoni. Pancasila tak boleh mati, dan menjadi sebuah prasasti tanpa arti. Jangan sampai, dengan alasan bahwa Pancasila adalah ideologi terbuka, lalu dibelokkan dengan nama sama, semisal mengubah UUD 1945 amandemen yang jiwanya bertentangan dengan Pancasila.

Hal ini memang merupakan perjuangan yang tidak mudah, karena kita belum memiliki jejak kehidupan modern yang berlandaskan harmoni. Berbeda dengan Jepang, yang sejak Restorasi Meiji, berhasil merebut keunggulan Barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap menjaga kontinuitas budaya harmoni dalam kehidupan.

Atas realitas itu, maka siapa pun diri kita harus selalu diingat-ingatkan, bahwa sesungguhnya kita ini adalah satu (tunggal-ika). Artinya, Bhinneka Tunggal Ika hendaknya tidak hanya dikeramatkan sebagai simbol NKRI saja, tetapi juga diaktualisasikan sebagai semangat dan strategi membangun keindonesiaan. Dengan demikian, kebudayaan merupakan faktor perekat persatuan yang paling nyata. Dapat dicontohkan bahasa Indonesia, yang bisa dimengerti dan diterima semua kelompok etnik.

Semangat kebangsaan juga harus direaktualiasi, karena spirit yang terbentuk dari pengalaman kolektif perang kemerdekaan, sudah tidak fungsional memecahkan berbagai persoalan kebangsaan di abad informasi. Saat ini, diperlukan tafsir baru semangat kebangsaan, sebagai kesadaran kolektif di tengah pola kehidupan baru yang mengglobal dan terbuka.

Satu hal yang pasti, nilai kebangsaan tidak akan membumi, apabila sekadar menjadi konsensus politik segelintir elit. Rasa kebangsaan model ini, tampak kurang berhasil memupuk solidaritas kolektif untuk bersedia hidup “senang-susah bersama”. Perasaan dan semangat kebangsaan Indonesia, bukanlah sebuah warisan yang ditemukan ataupun datang tiba-tiba. Karena itulah, wawasan kebangsaan harus terus-menerus disegarkan kembali, dan didialogkan bersama seluruh warga negara.

Melalui dialog-lah, nilai Kebangsaan Indonesia bisa berfungsi sebagai pemersatu beragam suku, asal dicapai melalui cara-cara beradab, operasional, dan efektif, sehingga mampu memenuhi kebutuhan obyektif setiap warga. Sebab kalau tidak, kita akan terpuruk ke dalam lumpur disintegrasi dan disharmoni.

Selain diarahkan ke dimensi loyalitas, semangat kebangsaan hendaknya juga ditafsirkan secara rasionalitas. Faktor rasionalitas inilah, yang lebih tepat untuk dikedepankan, dalam menghadapi perubahan-perubahan global, saat Pemerintah tidak lagi dianggap sebagai penafsir tunggal. Loyalitas kepada negara-bangsa, sangat tergantung dari kemampuan negara untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Memang, itu akan menjadi tantangan yang sangat berat, seiring meningkatnya tuntutan masyarakat untuk hidup layak dan aman, selaras dengan apa yang menjadi idealitas “welfare state”, bahwa negara akan selalu ada untuk rakyatnya.

 

Atas berbagai tantangan itu, mungkin timbul pertanyaan: “Masih adakah energi tersisa untuk membangun harmoni, sesudah terkuras habis oleh korupsi, tersedot ketika memerangi penjarahan alam, tersita bagi penyelesaian konflik-konflik SARA, mengatasi pertikaian politik, maupun sekian tantangan lainnya? Mungkin akan banyak yang pesimis, apatis, bahkan sinis.

 

Menyikapi hal itu, saya berkeyakinan, bahwa asa akan selalu ada. Sejarah memberi perspektif kebangsaan yang memberi harapan. Satu contoh saja, Korea Selatan pernah luluh-lantak usai Perang Dunia II, kini tampil gagah di serambi depan bangsa-bangsa maju. Lalu, apa rahasianya? Samuel Huntington, dalam bukunya Culture Matters (2000), memberikan jawaban tegas: budaya! Budaya yang bertumbuh di sana ialah kerja keras, disiplin, berhemat, menabung, dan mengutamakan pendidikan. Itulah akar-akar tunggang pohon excellence yang kita cari-cari itu. Nama lainnya: etos keunggulan.

 

Keyakinan yang kuat adalah rahasia kesanggupan menanggung segala kekurangan. Keyakinan, iman, harapan, tekad, antusiasme itulah berbagai wajah spiritualitas. Inilah “the spirit of Excellence"". Memang spirit itu perlu diberi sentuhan agar selaras dengan zaman, hingga pada akhirnya menjadi budaya keunggulan bangsa. Itulah pula yang menjadi tugas segenap anak bangsa, untuk bergegas melakukan re-aktualisasi budaya menuju tataran yang menyejahterakan, dimana dalam perspektif ke-Jogjaan, dikenal sebagai “Hamemayu Hayuning Bawana”.

 

Hadirin sekalian,

Masa depan memang harus direbut secara proaktif, bukan dinantikan secara reaktif. Refleksi dan revitalisasi nilai-nilai Pancasila sangat penting, karena berbagai cobaan masih akan terus mendera bangsa ini. Re-aktualisasi nilai budaya—harus diperkuat seiring perkembangan zaman, agar harmoni kebangsaan lahir dari tulus nurani anak bangsa, seiring kesadaran bahwa kekuatan kita adalah: beda dan khas dalam kekayaan kearifan lokal, namun tetap satu jua—manunggal dalam naungan kepak sayap Sang Garuda, seiring pekik: “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya!”.

Dan jika memang demikian adanya, maka optimisme akan berpendar di seluruh pelosok Indonesia, seiring upaya Memperteguh Nilai Pancasila, Melalui Re-Aktualisasi Budaya Keindonesiaan, sebagai Pedoman “Menatap Masa Depan”, seraya “Meretas Jalan Baru”, ke arah Indonesia Baru dengan harapan yang lebih baik. Dan semogalah pula, IKN Baru dapat menjadi sejatinya simpul pemersatu bangsa, bukan hanya karena posisi strategisnya, tetapi juga semat nilai kebangsaan yang akan terlahir darinya kelak.

 

Sekian, terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.




Surabaya, 14 Januari 2023

 

Dokumentasi

Online User

Design templateOnline User